Pengembangbiakan Tanaman Lewat Kultur Jaringan Ternyata Media Tumbuhnya Menggunakan Ini

0 99

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA – Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi  aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali.

Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu.

Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro, berarti di dalam kaca karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu.

Teori dasar dari kultur in vitro ini adalah totipotensi. Teori ini mempercayai bahwa tiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan-jaringan hidup. Karena itu, semua organisme baru yang berhasil ditumbuhkan akan memiliki sifat yang sama persis dengan induknya

Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jarjngan yang dibiakkan. Hal yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril.  Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan.

Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya.

Ada dua penggolongan media tumbuh: media padat dan media cair. Media padat pada umumnya berupa padatan gel, seperti agar agar (agarosa) dimana nutrisi dicampurkan pada agar. Media cair adalah nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair dapat bersifat tenang atau dalam kondisi selalu bergerak, tergantung kebutuhan.

Komposisi media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat berbeda komposisinya. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplam yang ditumbuhkan secara in vitro.

Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro, dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. 

Nutrien yang tersedia di media berguna untuk metabolisme, dan vitamin pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi. Pada media MS, tidak terdapat zat pengatur tumbuh (ZPT) oleh karena itu ZPT ditambahkan pada media (eksogen). 

ZPT atau hormon tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.  Interaksi dan keseimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur.

Penambahan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh  pada jaringan parenkim dapat mengembalikan jaringan ini menjadi meristematik kembal. Lalu berkembang menjadi jaringan adventif tempat pucuk, tunas, akar maupun daun pada lokasi yang tidak semestinya. 

Proses ini dikenal dengan peristiwa dediferensiasi. Ini ditandai dengan peningkatan aktivitas pembelahan, pembesaran sel, dan perkembangan jaringan.

Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus.

Tunas bonggol pisang dimasukkan ke botol khusus menjalani tahap pengadukan selama 24 jam. Tahap ini bertujuan menghilangkan fungi (jamur).
Tunas bonggol pisang dimasukkan ke botol khusus menjalani tahap pengadukan selama 24 jam. Tahap ini bertujuan menghilangkan fungi (jamur). (banjarmasinpost.co.id/idda royani)

Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan. Pertama, jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang.

Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.

“Kami menggunakan tunas apikal pada pembiakkan pisang, sedangkan pada anggrek menggunakan biji buahnya,” sebut Kepala Balai Benih pada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar Lily Marlina, kemarin. (banjarmasinpost.co.id/roy)

Sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/11/05/pengembangbiakan-tanaman-lewat-kultur-jaringan-ternyata-media-tumbuhnya-menggunakan-ini?page=2

Incoming search terms:

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.