Makalah Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan Kelapa Sawit

0 258
Kelapa Sawit.jpg

Gambar 1. Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

Pemeliharaan tanaman pada komoditas perkebunan yang bersifat tahunan, biasanya dikelompokkan ke dalam tanaman belum menghasilkan atau di singkat (TBM) dan tanaman menghasilkan disingkat (TM). TBM pada kelapa sawit adalah masa sebelum panen (dimulai dari saat tanam sampai panen pertama) yaitu berlangsung 30-36 bulan. Periode waktu TBM pada tanaman kelapa sawit terdiri dari:

TBM 0 : menyatakan keadaan lahan sudah selesai dibuka, ditanami kacangan penutup tanah dan kelapa sawit sudah ditanam pada tiap titik panjang.

TBM 1 : tanaman pada tahun ke I (0-12 bulan)

TBM 2 : tanaman pada tahun ke II (13-24 bulan)

TBM 3 : tanaman pada tahun ke III (25-30 atau 36 bulan)

Berikut ini akan dibahas tentang manajemen pemeliharaan kelapa sawit pada periode waktu 0 tahun di lapangan sampai dengan tanaman menjelang berbunga pertama (sekitar umur 3 tahun-an). Di antara tahapan penting dalam manajemen pemeliharaan tanaman kelapa sawit yaitu perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan, pengawasan pelaksanaan pemeliharaan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM).

Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, sejak bibit sawit selesai ditanam di lahan sampai tanaman mulai pertama kali berbunga meliputi:

  1. Konsolidasi atau Sensus Tanaman.
  2. Penyisipan Tanaman.
  3. Pengukuran Pertumbuhan Tanaman.
  4. Pemeliharaan Piringan, Jalan Rintis dan Gawangan.
  5. Pembuatan Jalan Pikul
  6. Pemasangan Titi Panen dan TPH.
  7. Pemupukan Tanaman.
  8. Tunas Pasir dan Kastrasi.
  9. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Sawit.
  10. Manajemen Irigasi/ Pengairan.

1) KONSOLIDASI ATAU SENSUS TANAMAN

Konsolidasi atau disebut juga sensus adalah kegiatan yang dilakukan untuk menginventarisasi tanaman yang mati, tumbang, atau terserang hama atau penyakit. Selain itu dilakukan pula menegakkan tanaman yang tampak miring dan memadatkan tanah setelah selesai kegiatan penanaman. Kerapatan tanaman kelapa sawit sesuai standar pohon yang sehat harus dicapai pada bulan ke 12 setelah penanaman. Sensus pada TBM 1 dengan penyisipan menjadi prioritas utama. Sensus pada TBM 1 dilakukan pada umur 2, 6 dan 10 bulan setelah tanam.

Tanaman yang tidak normal diberi tanda silang cat berwarna putih. Sensus selanjutnya adalah sensus tanaman tidak produktif yaitu dilakukan pada saat dimulai kastrasi pada bulan ke 14 dan 18. Oleh karena itu, untuk kegiatan kastrasi bunga betina yang ada di pohon non produktif (sensus ke 1 s.d sensus ke 4) tidak dibuang.

Berikutnya adalah sensus tanaman produksi rendah yaitu dilakukan 4 kali pada umur 14, 17, 20, dan 23 bulan setelah tanama dengan cara:

  • Sensus pertama pada umur 14 bulan (Ss 1) yaitu dilakukan pada pohon yang berbunga betina ≤ 4 diberi tanda dot pada pelepah ketiga dengan cat warna putih
  • Sensus kedua pada umur 17 bulan (Ss 2) yaitu pohon hasil Ss 1 dilihat kembali, dan apabila jumlah bunga betina ≤ 3 maka diberi tanda dot pada pelepah yang sama sehingga jumlah dotnya ada dua.
  • Sensus ketiga pada umur 20 bulan (Ss 3) yaitu pohon hasil Ss 2 dilihat kembali, dan apabila jumlah bunga betina ≤ 3 maka diberi tanda dot lagi sehingga jumlah dotnya ada tiga.
  • Sensus keempat pada umur 23 bulan (Ss 4) yaitu pohon hasil Ss 3 dilihat kembali, dan apabila jumlah bunga betina ≤ 3 maka diberi tanda dot lagi sehingga jumlah dotnya ada empat. Pohon-pohon hasil sensus keempat dengan tanda dot 4 dianggap tanaman kelapa sawit tidak produktif dan harus dilakukan

pembongkaran serta penyisipan pada 3 bulan berikutnya (tanaman berumur 26 bulan).

2) PENYISIPAN TANAMAN/ PENYULAMAN

Kegiatan penyisipan tanaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati, hilang atau kemungkinan besar tanaman tidak akan berproduksi optimal. Kedua kegiatan sensus dan penyisipan bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman-tanaman yang ada di lapangan adalah tanaman produktif. Pelaksanaan penyisipan tanaman yaitu 3-6 bulan setelah tanam, sehingga dimungkinkan terjadinya keseragaman panen. Frekuensi waktu penyisipan tanaman dilakukan dengan ketentuan 2-4 rotasi per tahun selama 18 bulan sejak tanam.

Cara penyisipan tanaman yaitu tanaman yang mati dicabut dan ditempatkan dalam gawangan. Kemudian penyisipan tanaman dilakukan dengan diawali pembuatan titik tanam. Penanaman dilakukan dengan mengikuti prosedur biasa, kecuali bibit yang digunakan bibit yang lebih besar (umur ≥ 12 bulan) sehingga dimungkinkan dilakukan pemotongan pelepah bibit. Pupuk pada saat penyisipan tanaman, diberikan sebanyak 1,5 kali dosis pupuk per lubang dari pada penanaman awal. Selanjutnya diperlakukan sama seperti pada tanaman lain di sekitarnya.

Peralatan yang digunakan dalam penyisipan tanaman yaitu:

  • Truk dengan bak rata dan terbuka atau traktor trailer.
  • Sekop bertangkai panjang.
  • Kaleng yang telah ditera untuk pemupukan lubang tanam.
  • Kereta dorong untuk angkutan dalam kebun.
  • Pisau tajam.

Bahan yang digunakan dalam penyisipan tanaman yaitu:

  • Kayu untuk menopang pohon yang miring.
  • Pupuk dasar.

3) PENGUKURAN PERTUMBUHAN TANAMAN, ANALISA DAUN, DAN MONITORING PEMBUNGAAN TANAMAN

Kegiatan pengukuran pertumbuhan TBM sawit merupakan upaya untuk memperoleh data tingkat pertumbuhan dan kondisi tanaman. Caranya yaitu mengukur panjang pelepah pada berbagai umur. Data hasil pengukuran tersebut akan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Pada analisa daun, contoh daun mulai diambil pada masa TBM 3. 1x/bln. 0,04 -0,06 HK/ha, dimana 1 KCD (Kesatuan Contoh Daun) diambil dari setiap blok (16-25 ha).  Mencatat pohon-pohon yang telah mengeluarkan bunga. 1x/ bulan. Monitoring oembungaan TBM sawit dilakukan dengan cara mengamati tiap pohon dan hasilnya digambarkan pada peta sensus. 1 HK/ha.

4) PEMELIHARAAN PIRINGANJALAN RINTIS, DAN GAWANGAN

Piringan (circle weeding) yaitu daerah yang berada di sekitar pokok kelapa sawit yang berbentuk lingkaran. Diameter masing-masing piringan berbeda, tergantung dari umur tanaman. Tanaman umur 2-6 bulan lebar piringan jari-jari60 cm, 6-12 bulan lebar piringan jari-jari 75 cm, 12-24 bulan lebar piringan jari-jari 100 cm, 24-36 bulan lebar piringan jari-jari 100-125 cm, dan umur lebih dari 24 bulan lebar piringan jari-jari 200 cm. Tujuan adanya piringan pada pertanaman kelapa sawit yaitu memudahkan proses pemanenan, memudahkan dalam pengutipan brondolan dan perawatan tanaman dan mencegah adanya hama dan penyakit tanaman. Oleh sebab itu, pada areal ini tidak boleh adanya gulma dan LCC (kriteria W0) yang akan mengganggu kegiatan pemupukan, pemanenan dan dapat menjadi inang bagi hama dan penyakit. Selain itu, piringan juga berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Oleh karena itu, kondisi piringan senantiasa bersih dari gangguan gulma. Pemeliharaan piringan dan gawangan bertujuan antara lain untuk:

  • Mengurangi kompetisi gulma terhadap tanaman dalam penyerapan unsur hara, air, dan sinar matahari.
  • Mempermudah pekerja untuk melakukan pemupukan dan kontrol di lapangan.

Pemeliharaan piringan dan gawangan bebas dari gulma dapat dilakukan secara manual atau secara kimia. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara manual yaitu tenaga manusia dengan menggunakan cangkul. Pemeliharaan piringan dan gawangan secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida.

Piringan Kelapa Sawit Manual.png

Gambar 2. Piringan Kelapa Sawit yang Dibersihkan Gulmanya Secara Manual

Piringan Kelapa Sawit Kimiawi.png

Gambar 3. Piringan Kelapa Sawit yang Dibersihkan Gulmanya Secara Kimia

Pelaksanaan pemeliharaan piringan dan gawangan, harus memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:

  • P 0 = menyingkirkan semua gulma, kacangan bersih dari gulma (kacangan 100%) umur 0-6 bulan, rotasi 2 minggu;
  • P 1 = kacangan 85%, rumput lunak 15%, umur 7-12 bulan, rotasi 3 minggu
  • P 2 = kacangan 70%, rumput lunak 30%, umur 12- 18 bulan, rotasi 3 minggu;
  • P 3 = kacangan bercampur dengan rumput lunak, bebas dari lalang dan anakan kayu, umur > 18 bulan rotasi 4 minggu.

Standar pembuatan dan pemeliharaan piringan dan jalan rintis dilakukan dengan cara:

  • Piringan bebas dari gulma sampai radius 30 cm di luar tajuk daun atau maksimal 180 cm dari pohon;
  • Pembuatan jalan rintis dilakukan pada umur tanaman 1-12 bulan dengan perbandingan 1:8, dan waktu tanaman berumur lebih dari 12 bulan. Jalan rintis dibuat dengan perbandingan 1:2 dengan lebar 1,2 m.
  • Perawatan jalan rintis/tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan piringan.

Pekerjaan penyiangan (P) atau weeding  pada TBM dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:

TBM 1 : W1 penutup tanah seluruhnya (100%) kacangan. Rumput-rumput gulma

lain dibersihkan semuannya dan

TBM 2 : W1 seperti pada TBM 1

TBM 3 : W3 yaitu 70% kacangan + 30% gulma lunak; bebas lalang.

Gulma yang diberantas adalah jenis gulma yang bersifat negatif bagi tanaman budidaya yakni: Alang-alang, mikania, pahitan, pakis, dan teki. Gulma kacangan yang merambat ke pohon diturunkan. Gulma lunak yang tidak perlu diberantas adalah jenis wedusan, sintrong. Contoh jenis-jenis gulma dapat dilihat pada Gambar 4.

Gulma Pakis Raja.png

Gambar 4 a. Gulma Pakis Raja

Gulma Rumput Bendera.png

Gambar 4 b. Gulma Rumput Bendera

Gulma Pohon.png

Gambar 4 c. Gulma Pohon

Sedangkan, contoh tanaman penutup tanah dapat dilihat pada Gambar 5.

Colapogonium Caeruleum (CC).png

Gambar 5 a. Colapogonium Caeruleum (CC)

Colapogonium Muconoides (CM).png

Gambar 5 b. Colapogonium Muconoides (CM)

Wedelia trilobata L.png

Gambar 5 c. Wedelia trilobata L, Penutup Tanah pada Lahan Gambut

Pekerjaan penyiangan/ weeding penutup tanah dilakukan dengan periode waktu sebagai berikut:

Bulan ke 1 s.d 4          : Penyiangan intensif dengan interval 2-2-2-3-4 minggu

Bulan ke 5 s.d 7          : Satu kali per 2 bulan

Bulan ke 8 s.d 22        : Satu kali per 1 bulan

Pekerjaan penyiangan pada gawangan yaitu dilakukan dengan dua cara, yaitu secara manual dan kimia. Penyiangan secara manual dilakukan dengan cara mencabut atau menggaruk gulma. Jika tinggi gulma/ vegetasi > 70 cm, penyiangan dilakukan dengan cara dibabat (baik menggunakan sabit atau menggunakan mesin pemotong rumput).

5) PEMBUATAN JALAN PIKUL

Pembuatan jalan pikul dilakukan sebagai jalan untuk pemeliharaan tanaman. Lebanya 80-100 cm. Alat yang digunakan untuk membuat jalan pikul adalah cangkul dan parang babat. Tanaman penutup tanah yang berada ditengah gawangan dibuka bersih menjadi jalan kontrol/pasar pikul.

  • TBM 1 : 1 jalan pikul untuk 8 baris tanaman. 400 m/HK.
  • TBM 2 : 1 jalan pikul untuk 4 baris tanaman. 400 m/HK.
  • TBM 3 : 1 jalan pikul untuk 2 baris tanaman. 400 m/HK.

6) PEMASANGAN TITI PANEN DAN TPH

Titi panen merupakan pembuatan jembatan pada setiap jalan rintis yang melewati parit atau saluran air, sehingga jalan rintis dapat dilalui tanpa hambatan. Tujuan titi panen adalah mempermudah pekerja panen dalam mengambil/mengangkut buah sawit. Titi panen harus segera dibuat setelah jalan rintis tersedia. Pemasangan titi panen dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

  • TBM 1 dipasang titi panen pada rintis = 25%
  • TBM 2 dipasang titi panen pada rintis = 25%
  • TBM 3 dipasang titi panen pada rintis = 50%

Titi panen dapat dibuat dari kayu atau beton. Penggantian titi panen berbahan kayu ke bahan beton sebaiknya sudah dimulai pada TBM 3 dan telah selesai TM. Jumlah titi panen tergantung dari jumlah parit dan saluran air. Untuk menentukan jumlah dan panjang titi panen harus didasarkan data sensus yang akurat. Ukuran lebar titi panen tegantung pada kebutuhan dan harus dapat dilalui angkong dengan lebar titi panen sekitar 20 cm. TPH merupakan tempat pengumpulan hasil panen kelapa sawit. TPH harus dibuat /dipersiapkan sejak 3-6 bulan sebelum panen. Caranya yaitu memiilih tempat yang datar kemudian membersihkan penutup tanah/rumput dengan menggunakan cangkul. Ukuran TPH adalah 2 meter x 2 meter. Jarak antara TPH satu dengan TPH yang lain adalah sekitar 50 meter (tiap 6 gawangan).

7) PEMUPUKAN TANAMAN

Pohon kelapa sawit memerlukan banyak unsur hara tanaman untuk pertumbuhan daun dan pembentukan tandan buah. TBM lebih memerlukan nitrogen untuk pertumbuhan vegetatifnya. Sasaran utama pemupukan TM kelapa sawit adalah memberikan tanaman sawit unsur hara yang memadai sehingga pertumbuhan vegetatif-nya sehat agar memiliki ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit. Perencanaan pemupukan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) dan RAB. Rencana pemupukan kelapa sawit (TBM) meliputi:

  • Blok tanaman yang akan dipupuk
  • Jumlah kebutuhan pupuk per blok
  • Permintaan kendaraan
  • Tempat pengeceran pupuk
  • Jenis dan jumlah peralatan pemupukan

Pemberian pupuk harus terintegrasi antara pupuk mineral dan pupuk organik. Perencanaan pelaksanaan pemupukan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit didasarkan pada prinsip 4T, yaitu (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat metode). Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, hasil analisis daun, jenis tanah, produksi tanaman, jenis tanah, hasil percobaan, dan kondisi visual tanaman.

Pemupukan Tanaman Sawit Harus Mengandung Nitrogen dan Kalium.png

Gambar 6. Pemupukan Tanaman Sawit Harus Mengandung Nitrogen dan Kalium

  1. Metode Pemupukan

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memupuk tanaman sebagai berikut:

  • Membersihkan terlebih dahulu piringan dari rumput, alang-alang dan pada areal datar semua pupuk ditabur merata mulai 0,5 m dari pohon sampai pinggir piringan;
  • Pada areal yang berteras, pupuk disebar pada piringan kurang lebih 2/3 dari dosis di bagian dalam teras dekat dinding bukit, sisanya (1/3 bagian) diberikan pada bagian luar teras.
Pembersihan Daerah Piringan.jpg

Gambar 7. Pembersihan Daerah Piringan

Penempatan Pupuk pada Kelapa Sawit Kotoran Lain

           Gambar 8. Penempatan Pupuk pada Kelapa Sawit Kotoran Lain

2. Waktu Pemupukan

Pupuk harus tersedia pada waktu yang ditentukan, sehingga keberadaannya tidak menjadikan suatu hambatan bagi tanaman yang akan dipupuk. Adapun waktu yang terbaik untuk melakukan pemupukan adalah pada saat musim penghujan, yaitu pada saat keadaan tanah berada dalam kondisi sangat lembab, tetapi tidak sampai tergenang air. Dengan demikian, pupuk yang diberikan di masing-masing tanaman dapat segera larut dalam air, sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman. Jumlah air tanah yang sangat baik untuk melarutkan pupuk adalah sekitar 75% dari kapasitas lapang. Hal ini dapat dicapai jika sehari sebelumnya telah terjadi hujan sebanyak sekitar 20 mm serta pada bulan-bulan sebelumnya tidak terjadi defisit air. Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun >60 mm/bln. Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.

  • Pupuk dolomit dan Rock Phosphate (RP) diusahakan diaplikasikan lebih dulu untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti oleh MOP/KCl dan urea/ZA.
  • Jarak waktu penaburan dolomit/RP dengan urea/ ZA minimal 2 minggu.
  • Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu dua bulan.

Adakalanya berdasarkan rekomendasi pemupukan pada masa TBM, pupuk diaplikasikan sebanyak 3 kali dalam setahun, dimana untuk pupuk N, P, K, Mg, dan Bo dapat diberikan menjelang dan pada akhir musim hujan. Untuk pupuk N dapat diberikan ¾ bagian pada saat menjelang (awal) musim hujan dan ¼ bagian diberikan pada akhir musim hujan. Untuk pupuk P dan k dapat diberikan sebanyak ¼ bagian pada saat menjelang (awal) musim hujan dan ¾ bagian lagi pada akhir musim hujan. Untuk pupuk Mg diberikan sebanyak 2/3 bagian pada saat menjelang (awal) musim hujan dan 1/3 bagian lagi dapat diberikan pada akhir musim hujan. Untuk pupuk boraks dapat diberikan sebanyak ½ bagian pada saat menjelang (awal) musim hujan dan ½ bagian lagi dapat diberikan pada saat akhir musim hujan. Namun, kadangkala diperoleh rekomendasi yng menganjurkan aplikasi pemupukan pada masa TBM I setiap 2 atau 3 bulan sekali, pada masa TBM II setiap 6 bulan sekali dan masa TBM III hanya satu kali setahun.

3. Frekuensi Pemupukan

Pemupukan dilakukan 2 – 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah pupuk, dan umur kondisi tanaman. Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekuensi yang lebihbanyak. Frekuensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya.

4. Jenis dan Dosis Pupuk

Jenis pupuk untuk kelapa sawit dapat berupa pupuk tunggal, pupuk campuran, pupuk majemuk, dan pupuk organik. Pemilihan jenis pupuk, disarankan agar hati-hati karena banyak beredar di pasaran berbagai bentuk dan komposisi hara. Berbagai jenis pupuk diuraikan sebagai berikut.

d.1. Pupuk tunggal

Pupuk tunggal merupakan pupuk yang mengandung satu jenis hara utama. Pupuk tunggal yang dipergunakan perkebunan kelapa sawit dalam memenuhi kebutuhan hara makro bagi tanaman kelapa sawit dan direkomendasikan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekomendasi Pupuk Tunggal yang Digunakan Perkebunan dalam MemenuhiKebutuhan Hara Makro Bagi Tanaman Kelapa Sawit

HaraPupukSpesifikasi
NUrea46%
ZA21% N, 23% S
SP-36·         P205 total: 36%·         P2O5 (larut dalam asam sitrat 2%): 34%·         S: 5%
RP·         P2O5 total: min 36%·         P2O5 (larut dalam asam sitrat 2%): 34%·         Ca + Mg (setara CaO): min 40%·         Al2O3 + Fe2O3: maks 3%·         Kadar air: maks 3%·         Kehalusan (lolos saringan 80 mesh): min 50%·         Kehalusan (lolos saringan 25 mesh): min 80%
KMOP (KCl)K2O: 60%
MgKleserit·         MgO: 26%·         S: 21%
Dolomit·         MgO: min 18%·         CaO: min 30%·         Al2O3 + Fe2O3: maks 3%·         SiO2: maks 5%·         Kadar air: maks 5%·         Ni: maks 5 ppm·         Kehalusan (lolos saringan 100 mesh)

d.2. Pupuk campuran

Untuk memenuhi kebutuhan hara secara khusus dan mengurangi biaya aplikasi, beberapa pupuk tunggal dapat dicampur menjadi pupuk campuran.

d.3. Pupuk majemuk

Pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung beberapa unsur hara yang dikombinasikan dalam satu formulasi Keuntungan penggunaan pupuk majemuk adalah semua unsur hara utama diaplikasikan dalam satu rotasi pemupukan.

d.4. Pupuk organik

Akibat terjadinya kelangkaan pupuk dan mahalnya pupuk anorganik serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan, maka beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit telah menggunakan pupuk organik untuk kegiatan pemupukan tanaman sawit. Caranya yaitu memanfaatkan hasil potongan pelepah daun kelapa sawit, potongan hasil tanaman penutup tanah, atau tandan kosong kelapa sawit. Pemberian bahan organik sebagai pupuk memberikan pengaruh sangat kompleks terhadap pertumbuhan tanaman. Pengaruh bahan organik terhadap pertumbuhan tanamanm terutama karena kemampuannya memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Hal ini terjadi karena meningkatnya kegiatan mikroorganisme di dalam tanah sehingga struktur tanah menjadi lebih baik (lebih remah), aerasi tanah dan kapasitas menahan air meningkat, serta adanya bahan organik akan berfungsi sebagai mulsa yang melindungi permukaan tanah dari erosi dan pencucian hara.

Setelah dibahas berbagai jenis pupuk di atas, berikut diuraikan kebutuhan pupuk tanaman kelapa sawit belum menghasilkan (TBM). Jenis dan dosis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan umur tanaman, jenis tanah dan waktu pemberiannya. Secara umum dosis pupuk yang digunakan berdasarkan umur tanaman yaitu disajikan pada Tabel 2. Namun, untuk memperoleh ketentuan dosis pupuk secara akurat dapat dilakukan melalui analisa tanah dan analisa daun di suatu areal perkebunan.

Tabel 2. Dosis Pemupukan TBM Kelapa Sawit

Umur Tanaman (bulan)Dosis Pupuk (kg/pohon)
ZA atau UreaRPMoP (Kc)KleseriteHGF Borate
Saat Tanam0,50
10,10
30,25
50,250,500,150,10
80,250,350,150,02
120,500,750,350,25
Jumlah TBM 11,351,751,000,700,02
160,500,500,500,03
200,501,000,500,50
240,500,750,500,05
Jumlah TBM 21,501,001,751,500,08
280,751,000,750,75
320,751,000,75
Jumlah TBM 31,501,001,751,50
Total4,353,754,503,700,10

8) TUNAS PASIR DAN KASTRASI

a. Tunas Pasir

Sebelum areal/blok masuk dalam kategori TM tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan tunas apapun karena pada waktu tersebut jumlah pelepah belum optimum. Sehingga pelepah produktif tidak boleh dibuang. Prinsip tunas pasir adalah hanya membuang pelepah yang berada satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan pelepah kering.

Pekerjaan tunas pasir dilakukan dengan cara membuang pelepah satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan juga pelepah kering. Dilakukan 6 bulan sebelum TM. Pelepah kering dipotong memakai dodos. Pelepah dipotong rapat ke pangkal dengan memakai dodos kecil (mata dodos 8 cm), kemudian pelepah-pelepah tersebut dikeluarkan dari piringan dan disusun di gawangan mati. Sesudah pekerjaan tunas pasir selesai, maka dilarang keras memotong/ memangkas pelepah untuk tujuan apa pun, kecuali untuk analisis daun, ini pun hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja. Tunas pasir dapat dilihat pada Gambar 9.

Tunas Pasir Kelapa Sawit.png

Gambar 9. Tunas Pasir Kelapa Sawit

b. Kastrasi

Kastrasi atau disebut juga ablasi merupakan pekerjaan penting pada kelapa sawit sebelum tanaman beralih dari TBM ke TM. Oleh karena itu, sebelum melakukan kastrasi terlebih dahulu dilakukan monitoring pembungaan. Caranya yaitu mencatat pohon-pohon yang telah berbunga. Hasil catatan tersebut kemudian digambarkan pada peta sensus.

Tanaman kelapa sawit mulai mengeluarkan bunga setelah berumur 9 bulan, tergantung pertumbuhannya. Pada saat tersebut, bunga yang dihasilkan masih belum membentuk buah sempurna sampai tanaman berumur sekitar 24 bulan sehingga tidak ekonomis untuk diolah. Oleh sebab itu, semua bunga maupun buah yang keluar sampai dengan umur 24 bulan perlu dibuang atau diablasi.

Ablasi merupakan aktivitas membuang semua produk generatif,yaitu bunga jantan, betina, dan seluruh buah (yang terlanjur jadi) guna mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa sawit. Pelaksanaan ablasi terakhir dilakukan enam bulan sebelum pokok dipanen. Tujuan utama dilakukannya ablasi adalah mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang tidak ekonomis ke pertumbuhan vegetatif sehingga pokok sawit yang telah diablasi akan lebih kuat dan pertumbuhannya seragam. Dengan demikian, pertumbuhan buah akan lebih besar dan seragam, serta menghambat perkembangan hama dan penyakit.

Ablasi biasanya dilakukan pada umur 18 bulan sejak tanam dilapangan sampai dengan 24 bulan. Setelah itu, bunga betina yang keluar dibiarkan sehingga tanaman sudah dapat dipanen pada umur 30 bulan. Ablasi mulai dilaksanakan jika lebih dari 50% pokok kelapa sawit dalam satu blok telah mengeluarkan bunga jantan dan atau betina. Umumnya, ablasi mulai dilakukan saat tanaman berumur 18 bulan di lapangan. Pelaksanaan ablasi dilakukan setiap dua bulan sekali sampai tanaman berumur 24 bulan. Alat yang digunakan untuk ablasi yaitu dosis dengan lebar mata 8 cm dan arit kecil.

9) PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SAWIT

Hama dan penyakit pada pkelapa sawit belum menghasilkan dan sudah menghasilkan adlaah tidak berbeda. Terkait dengan tugas manajemen pengendalian maka perlu jenis hama dan penyakit dominan.

  1. Hama Tanaman Kelapa Sawit

Beberapa jenis hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit yaitu:

  • Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS)

UPDKS antara lain ulat api, ulat kantong (Mahasena corbett), ulat bulu merupakan hama utama yang dapat menurunkan produksi 30-40% dalam 2 tahun setelah kehilangan daun sebanyak 50%. Contoh ulat api yang menyerang pohon muda terdapat pada Gambar 10.

ulat api

Gambar 10. Ulat Api

Hama ini biasanya menyerang daun mulai dari bagian bawah. Daun-daun yang terserang biasanya berlubang atau sobek hingga tinggal tulang-tulang daun, ada serangan hebat, daun akan habis. Pengendalian UPDKS dilaksanakan dengan sistem pngendalian hama terpasu (PHT) yaitu berdasarkan monitoring populasi kritis, mengutamakan pelestarian, dan pemanfaatan musuh alami. Penentuan populasi diterapkan dengan mengamati 1 poon contoh/ha kelapa sawit setiap bulan sekali. Setiap pohon diambil 2 pelepah yang telretak pada bagian bawah dan tengah tauk kelapa sawit. Apabila terjadi serangan UPDKS, maka jumlah pohon contoh ditambah menjadi 5 pohon/ha dan diamati setiap 2 minggu sekali. Pengamatan dilakukan terhadap 1 pelepah/pohon contoh, yakni pada pelepah yang diduga paling banyak dijumpai UPDKS. Apabila perlu dilakukan tindakan pengendalian, maka pada saat sebelum pengendalian, populasi UPDKS harus dihitung, begitu pula 1 minggu setelah pengendalian. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan perlu tidaknya pengendalian ulangan. Penggunaan insektisida sistemik diupayakan sebagai tindakan terakhir dan dipilih jenis yang aman terhadap lingkungan, parasitoid, dan predator.

Tanaman yang bermanfaat bagi tanaman kelapa sawit adalah:

  • Euphorbia heterophylla L (patik emas).
  • Borreria alata L (Setawar/Jukut minggu/Emprah/Goletrak).
  • Cassia tora L.
  • Turnera subulata L.
  • Tikus ( Rattus tiomanicus, Rattus sp.)

Jenis tikus yang sering ditemukan di areal kebun kelapa sawit adalah tikus belukar (Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattusrattus argentiventer), tikus rumah (Rattus rattus diardii)dan tikushuma (Rattus exulans). Dari keempat jenis tikus di atas, tikus belukar merupakan dominan di perkebunan kelapa sawit. Contoh kelapa sawit yang terserang tikus dapat dilihat pada Gambar 11.

Kelapa Sawit (TBM) Terserang Tikus.png

Gambar 11. Kelapa Sawit (TBM) Terserang Tikus

Tikus menyerang tanaman kelapa sawit yang berumur 0-1 tahun pada bagian titik tumbuh/umbut, merusak bunga jantan dan bunga betina, menggigit dan mengerek buah tanaman kelapa sawit. Pada pembibitan tanaman umumnya hama tikus ini menyerang titik tumbuh. Pada bibit tanaman yang terserang hama ini tumbuh tidak normal karena jaringan-jaringan titik tumbuh rusak. Pada serangan berat dapat menyebabkan bibit tanaman tidak dapat berkembang dan akhirnya mati. Hama ini dapat menimbulkan kehilangan produksi mencapai 5 %. Perlukaan buah akibat keratan tikus dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas minyak kelapa sawit. Oleh karena itu hama ini perlu dikendalikan. Hama tikus ini pada umumnya agak sulit untuk diberantas, karena tempat hidupnya luas dan sering berpindah-pindah. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan cara antara lain:

  • secara mekanis yakni dengan cara merusak sarangnya dan pengasapan/ emposan serta membunuhnya pada saat hama tikus keluar dari sarangnya.
  • secara biologis yakni menggunakan masuh alami atau predator seperti burung hantu, kucing, ular.
  • Kumbang penggerek (Oryctes sp)

Kumbang penggerek pucuk merupakan hama yang menimbulkanmasalah pada seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia yaitu dari Oryctes rhinoceros. Kumbang ini secara morfologi berukuran panjang 4 cm berwarna coklat tua kehitaman. Pada bagian kepala memiliki tanduk kecil sehingga sering disebut kumbang tanduk atau kumbang badak (Gambar 12).

Kumbang penggerek pucuk

Gambar 12. Kumbang Penggerek Pucuk Oryctes rhinoceros

Kumbang betina mempunyai bulu lebat pada bagian ujung perutnya, sedangkan yang jantan tidak berbulu. Kumbang yang baru keluar langsung menyerang kelapa sawit, kemudian kawin.selanjutnya kumbang betina meletakkan telur pada bahan organik yang sedang mengalami pembusukan seperti batang kelapa sawit mati, kotoran kerbau/sapi, kompos/sampah dan lain-lain. Telur menetas dalam waktu 9 -14 hari. Kumbang terbang dari tempat persembunyiannya menjelang senja sampai agak malam (sampai dengan jam 21.00 WIB), dan jarang dijumpai pada waktu larut malam. Dari pengalaman diketahui, bahwa kumbang banyak menyerang kelapa pada malam sebelum turun hujan. Keadaan tersebut ternyata merangsang kumbang untuk keluar dari persembunyiannya. Kumbang O. rhinoceros menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai berumur 2,5 tahun.

Kumbang jantan maupun betina menyerang kelapa sawit. Kumbang tanduk hinggap pada pelepah daun yang agak muda, kemudian mulai menggerek ke arah titik tumbuh kelapa sawit. Panjang lubang gerekan dapat mencapai 4.2 cm dalam sehari, jika titik tumbuhnya habis maka tanaman akan mati. Pucuk kelapa sawit yang terserang, bila membuka daunnya tampak seperti kipas atau bentuk lain yang abnormal (Gambar 13).

Kerusakan Titik Tumbuh Akibat Serangan Hama Kumbang Penggerek Pucuk (Oryctes rhinoceros).png

Gambar 13. Kerusakan Titik Tumbuh Akibat Serangan Hama Kumbang Penggerek Pucuk (Oryctes rhinoceros)

Metode pengendalian dilakukan dengan monitoring secara teratur setiap bulan, terhadap 15 % jumlah seluruh tanaman (sampel tanam; setiap 6 baris diambil 1 baris tanaman). Selama 2 tahun pertama setelah kelapa sawit dipindah tanam ke lapangan, apabila ditemukan 3-5 ekor kumbang/ha, maka pemberantasan harus dilakukan. Pada kelapa sawit yang berumur lebih dari dua tahun, akibat serangan hama ini menjadi kurang berbahaya. Dengan demikian, padat populasi kritis dinaikkan menjadi 15-20 ekor/ ha.

Upaya pencegahan yang dapat menghambat perkembangan larva Oryctes rhinocerosadalah penutupan batang kelapa sawit bekas replanting dengan kacangan penutup tanah secepat mungkin. Hal ini dapat mencegah serangga untuk meletakkan telurnya pada batang mati tersebut. Tindakan pemberantasan yang dapat dilakukan:

– pengumpulan kumbang secara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan menggunakan alat kail dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi kumbang 3-5 ekor/ha, setiap dua minggu jika populasi kumbang 5-10 ekor/ha, dan setiap minggu jika populasi kumbang lebih dari 10 ekor.

– penghancuran tempat peletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan pengumpulan larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.

– pemberantasan secara kimiawi menaburkan insektisida butiran karbosulfan sebanyak (0.05-0.10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/pohon, setiap1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit.

– pemerangkapan kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap. Ferotrap tersebut terdiri atas satu kantong feromonsintetik (etil-4 metil oktanoat) yang digantungkan dalam ember plastik kapasitas 12 liter. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga digunakan pelengkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu ferotrap cukup efektif untuk 1 ha dan satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama sekitar 60 hari. Setiap 2 minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh.

2. Penyakit Tanaman Kelapa Sawit

Beberapa penyakit dominan pada tanaman kelapa sawit sebelum menghasilkan buah adalah:

  • Penyakit Busuk Pangkal Buah (BPB)

Penyakit ini disebabkan oleh Ganoderma boninenseGanoderma boninense merupakan jamur tanah hutan hujan tropis. Jamur G. boninense bersifat saprofit (dapat hidup pada sisa tanaman) dan akan berubah menjadi patogenik apabila bertemu dengan akar tanaman kelapa sawit yang tumbuh di dekatnya. Serangan BPB dapat terjadi sejak bibit sampai tanaman tua, tetapi gejala penyakit biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di lapangan. Penyakit ini dijumpai pada tanaman berumur 5 tahun. Serangan penyakit ini yang paling tinggi dijumpai pada umur 10-15 tahun, tetapi hal ini bervariasi tergantung pada kebersihan kebun dan sejarah tanaman di kebun tersebut. Kehilangan tanaman sampai dengan 80% telah dilaporkan padatempat-tempat yang berasal dari konversi kelapa. Patogen ini umumnya menyerang pangkal batang tanaman. Gejala yang tampak pertama kali adalah adanya bercak kekuningan pada pelepah muda. Begitu penyakit berkembang warna kuning semakin jelas. Daun yang tua menjadi layu, patah pada pelepahnya dan menggantung pada batang. Sedang pangkal batang menghitam, getah keluar dari tempat yang terinfeksi dan akhirnya batang membusuk dengan warna coklat muda. Tanda pertama adanya infeksi adalah munculnya bagian busuk pada pangkal batang. Bagian yang busuk kemudian berkembang ke atas dan sekitar batang (Gambar 14).

Penyakit Busuk Pangkal Batang Disebabkan Oleh Ganoderma boninens).png

Gambar 14. Penyakit Busuk Pangkal Batang Disebabkan Oleh Ganoderma boninens)

Serangan penyakit ini pada bagian atas tanaman dapat terjadi dimana saja pada batang tanaman. Gejala pertama yang dapat dilihat adalah adanya bagian atas tajuk patah. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit busuk pangkal batang sebagai berikut:

– Melakukan pembersihan lahan terutama terhadap sisa-sisa tanaman kelapa atau    kelapa sawit.

– Menghindari penanaman kelapa sawit dekat dengan perkebunan kelapa (Cocos    nucifera L.).

– Melakukan sensus terhadap tanaman setiap 6 bulan sekali untuk mengidentifikasi tanaman yang terserang/terinfeksi jamur.

Tindakan pengendalian dapat dilakukan, antara lain:

– Pengendalian secara mekanis yakni membongkar, mengumpulkan dan membakar tanaman yang terserang penyakit, terutama bagi tanaman yang terinfeksi ada jamur.

– Pangkal batang dan perakarannya dibongkar hingga kedalaman 15 -20 cm serta dikeluarkan dari lahan perkebunan kelapa sawit.

– Tanaman yang terinfeksi tanpa ada jamur, tetapi masih tetap berproduksi, harus dimonitor / kontrol terus.

– Pengendalian secara kimiawi yakni sekitar pohon yang terserang dibuat parit selebar 30 cm, dalam 1 m (parit isolasi),kemudian pinggir parit disemprot dengan fungisida.

– Menggunakan biofungisida Marfu-PBahan aktif yang digunakan untuk biofungisida Marfu-P adalahsporakonidia dan klamidospora jamur Trichoderma koningii.

10) MANAJEMEN IRIGASI/ PENGAIRAN

Ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit. Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat terganggu, berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif maupun fase generatif. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah. Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah rendah. Pengairan pada perkebunan kelapa sawit untuk TBM harus memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Air yang digunakan tidak berasal dari sungai yang tercemar limbah
  2. Air yang digunakan tidak berasal dari rawa karena air rawa memiliki derajad keasaman rendah dan mengandung asam organik tinggi sehingga dapat meracuni tanaman
  3. Air yang digunakan harus sehat, tidak mengandung asam-asam, garam-garam, zat-zat beracun dll
  4. Kualitas dan kesehatan air untuk penyiraman sebaiknya diuji laboratorium, terutama yang berasal dari sungai

Secara garis besar ada 3 macam sistem pengairan yang digunakan di pembibitan, yaitu:

  1. Penyiraman Manual

Sistem manual sering digunakan pada lahan yang luasnya kurang dari 2 hektar. Sistem ini banyak membutuhkan tenaga kerja, sehingga untuk lahan skala besar tidak efisien bila menggunakan sistem ini. Ada beberapa macam yang termasuk dalam sistem manual ini, yaitu

  1. Sistem Penampungan Air (Watercan System)
  2. Sistem Selang Air

Sistem irigasi manual kalau dilihat dari sisi kebutuhan bahan memang tidak banyak membutuhkan material, namun dilihat dari tenaga kerja, yang dibutuhkan cukup besar. Oleh sebab itu sistem ini tidak direkomendasikan untuk pembibitan dengan skala besar.

  1. Sistem Sprinkler

Perlengkapan dari sistem ini mampu bertahan dan bisa diperbaiki sehingga bisa dipakai bertahun-tahun. Bahkan dapat dibongkar dan kemudian dipasang lagi di lokasi lain. Pemasangan jaringan sprinkler membagi areal pembibitan menjadi dua bentuk segi empat yang sama luasnya. Parit digali di tengah-tengah areal kemudian pipa utama ditanam di dalam parit tersebut. Besar pipa utama diameternya 10 cm bila luas lahan 8 hektar atau kurang. Bila luas pembibitan lebih dari 8 hektar besar pipa utama yang dipasang lebih besar lagi.

Penggunaan sprinkler dengan sistem permanen terbukti membutuhkan biaya yang cukup besar dibanding dengan penggunanaan sprinkler dengan sistem yang dapat dipindah-pindahkan, walaupun sistem yang terakhir lebih banyak membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak. Keuntungan dengan penggunaan sistem sprinkler baik yang permanen maupun yang dapat dipindah-pindahkan adalah air yang diterima tanaman pada saat penyiraman dapat stabil dan seragam volumenya antara tanaman satu dengan tanaman lainnya.

2. Selang Politen Perforasi (Perforated Polythene Layflat Tube)

Sistem ini menggunakan selang politen perforasi bagian permukaan atas diberi lubang. Antara lubang satu dengan yang lainnya berjarak 15 cm dan membentuk dua baris sepanjang selang. Selang biasanya dikemas dalam bentuk rol, satu rol panjang 100 m, dengan berat lebih kurang 2,5 kg. Dengan bentuk dan berat tersebut selang sangat mudah untuk diangkat dan dipindah-pindahkan. Untuk pipa utamanya menggunakan pipa jenis PVC, sehingga cukup ringan dan mudah untuk diangkut.

Sumber :
https://rivandipputra.wordpress.com/2013/07/23/1897/

Incoming search terms:

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.