Kultur Jaringan, Bermanfaat atau Tidak?

0 47
Kultur Jaringan, Bermanfaat atau Tidak?

Kultur Jaringan (navalwiki.info)

“Kultur Jaringan” kita pasti pernah mendengar kata itu bukan. Sebenarnya itu apa? Jadi Kultur Jaringan itu adalah salah satu cara perbanyakan tanaman yang mulai sering digunakan di zaman modern. Kultur jaringan dilakukan secara vegetatif. Ini dilakukan dengan mengisolasi bagian tanaman tersebut, bagian tanaman yang diisolasi antara lain jaringan akar, batang, daun, dan mata tunas. Setelah diisolasi, bagian tanaman tersebut harus ditumbuhkan pada media buatan.

Media buatan itu harus kaya akan nutrisi dan zat pengatur tumbuh (hormon), selain itu media buatan tersebut harus dalam kondisi aseptik atau steril dan harus dalam wadah tertutup yang mana cahaya bisa masuk kedalamnya (misalnya, botol-botol kaca). Tanaman yang akan dikultur harus disesuaikan suhunya sehingga tanaman dapat tumbuh, memperbanyak diri yang nantinya akan menjadi tanaman yang lengkap.

Teknik kultur jaringan ini jelas berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan pada umumnya. Teknik kultur jaringan wajib dilakukan di dalam botol kultur yang steril dengan medium dan kondisi tertentu. Maka dari itu teknik kultur jaringan ini sering disebut kultur in vitro, yang berarti “di dalam kaca”.

Banyak yang bertanya-tanya siapa yang menemukan teknik ini? F. C. Steward adalah orang dibalik semua ini. Ia menemukan teknik kultur jaringan pada tahun 1969 saat ia melakukan percobaan dengan mengambil satu sel empulur wortel. F. C. Steward pasti tidak sembarangan dalam melakukan percobaan ini. Ia memiliki dasar-dasar teori yang melandasi kultur jaringan ini, diantaranya :

Sel organisme multiseluler dimanapun letaknya adalah sama dengan sel zigot karena berasal satu sel tersebut (semua sel berasal dari satu sel).

Totipotensi sel (total genetic potential) yang menyatakan bahwa setiap sel punya potensi genetik yang sama dengan zigot dimana mampu memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi tanaman yang mempunyai anggota yang lengkap.

Pada tumbuhan, memiliki jaringan meristem dan jaringan dasar (parenkim) dimana kedua jaringan tersebut belum berdiferensiasi dan masih aktif membelah.

Kita pasti bertanya-tanya, kenapa F. C. Steward mau bersusah-susah meneliti tentang kultur jaringan. Jadi pada dasarnya teknik kultur jaringan ini awalnya hanya merupakan sebuah ajang pembuktian totipotensi sel, lalu berkembang pesat dan biasanya dimanfaatkan untuk penyediaan bibit tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif (misalnya anggrek).

Dengan menggunakan teknik kultur jaringan kita dapat memperoleh beberapa keuntungan misalnya, kita bisa memperoleh bibit dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang relatif singkat, selain itu kita bisa memperoleh bibit yang identik dengan induknya, misal induk tersebut memiliki sifat memiliki buah yang manis maka nantinya diperoleh hasil yang memiliki buah yang manis pula.

Maka dari itu untuk melakukan teknik kultur jaringan ini kita harus memilih induk yang mempunyai sifat yang unggul agar hasil dari kultur jaringan ini bisa memiliki sifat yang unggul pula. Bibit yang dihasilkan pun seragam, kualitas dan kesehatan lebih terjamin serta bibit tersebut dalam proses pertumbuhannya lebih cepat dan tidak bergantung pada musim. Dalam melakukan teknik kultur jaringan juga tidak perlu tempat yang luas karena hanya menggunakan botol-botol kaca.

Zaman sekarang sudah banyak orang yang beralih menggunakan kultur jaringan oleh karena banyaknya keuntungan-keuntungan yang bisa didapat. Kultur jaringan sudah banyak diaplikasikan sebagai contoh, tanaman pisang lampung yang dikultur jaringan memiliki sifat yang baik yaitu lebih tahan terhadap hama dan penyakit, lebih cepat berbuah sehingga meningkatkan produksi buah, kualitas buah lebih baik, dan kecil kemungkinan terjadinya penurunan hasil (baik kualitas dan kuantitasnya).

Oleh karena kultur jaringan yang telah umum digunakan maka kita perlu tahu tahapan-tahapan dalam melakukan kultur jaringan. Dalam perbanyakan tanaman dengan menggunakan teknik kultur jaringan harus melalui berbagai tahapan. Ada 6 tahapan untuk melakukan kultur jaringan, yaitu sterilisasi, pembuatan media, inisiasi, multiplikasi, pengakaran, dan aklimatisasi.

Prosesnya dimulai dengan mensterilisasi semua alat-alat yang digunakan di autoklaf dan dicelupkan kedalam etanol atau larutan kaporit, eksplan juga harus disterilkan dengan menggunakan alkohol. Semua proses dilaksanakan di laminar air flow cabinet. Laboran yang akan melakukan kultur jaringan juga juga harus membersihkan semua anggota badannya (tahap sterilisasi).

Lalu dibuatkan media yang disesuaikan dengan tanaman yang akan dikultur biasanya terdiri atas vitamin, garam mineral, hormon, serta media tumbuh yang berupa agar-agar dan gula (tahap pembuatan media). Lalu pengambilan eksplan baru dilakukan (tahap inisiasi) dan eksplan tersebut ditanamkan pada media yang telah dibuat lalu ditempatkan di tempat yang steril (tahap multiplikasi).

Lalu eksplan akan mulai tumbuh akar, tahap ini harus diperhatikan tiap hari untuk mencegah kontaminasi jamur atau bakteri yang akan menghambat proses kultur jaringan (tahap pengakaran). Setelah tanaman bertumbuh semakin besar, tanaman tersebut dipindah. Dalam proses pemindahan harus menggunakan sungkup, sungkup ini lama kelamaan akan dilepas setelah bibit mampu beradaptasi dengan udara luar. Pemeliharaan bibit dilakukan layaknya pemeliharaan secara generatif (tahap aklimatisasi).

Teknologi kultur jaringan sudah sangat menyebar luas dan sudah banyak digunakan untuk kelestarian dan pemanfaatan sumber hayati. Hal ini tentu ada banyak dampak yang ditimbulkan baik dampak yang positif maupun dampak yang negatif. Dampak positif yang umum sudah jelas yaitu menghasilkan bibit yang unggul dalam jumlah yang banyak serta dalam waktu yang singkat.

Namun seringkali banyak orang di luar sana yang melupakan atau menghiraukan dampak negatif yang ditimbulkan apabila teknik kultur jaringan ini dilakukan tanpa melihat sudut pandang pihak lain misalnya dari segi lingkungan.

Permasalahan sudah dimulai! Pertanyaan yang utama adalah apabila negara–negara maju yang mana ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat disana mulai mengembangkan teknologi kultur jaringan ini untuk mengambil gen plasma nutfah (gen asli) dari negara lain agar dapat dikembangkan di negaranya sendiri.

Kasus pengambilan plasma nutfah ini telah dihimbau oleh pemerintah, contohnya adalah kantong semar (Nepenthes adrianii), ada apa dengan tanaman ini? Jadi tanaman kantong semar merupakan tanaman khas dari Kabupaten Banyumas, tepatnya di lereng Gunung Slamet. Menurut data dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jateng, tanaman kantong semar sudah menjadi incaran banyak negara maju diantaranya adalah Prancis, Swiss, dan Jepang.

Para ilmuwan itu ingin mengambil gen plasma nutfah dari tanaman kantong semar karena kantong semar memiliki enzim yang berguna untuk melumatkan daging. Maka dari itu kasus ini merupakan bukti bahwa plasma nutfah di Indonesia mulai terancam. Apabila negara lain berhasil mencuri gen plasma nutfah dari Indonesia maka kekayaan hayati di Indonesia bisa diklaim oleh negara lain.

Pertanyaan yang kedua apakah bisa kultur jaringan dapat dikirim melewati batas-batas negara tanpa proses karantina? Jawabannya adalah kultur jaringan ternyata bisa dikirim melewati batas-batas negara oleh karena bibit yang dihasilkan bebas dari hama penyakit.

Kembali ke pertanyaan utama apakah ini merupakan suatu keadaan yang positif atau sebaliknya. Untuk bisa mengetahuinya kita harus meninjau dari segala aspek Jika ditinjau lebih jauh, ini merupakan contoh pemanfaatan praktik kultur jaringan yang mulai mengarah pada arah yang negatif. 

Mungkin jika dilihat dari sudut pandang negara maju hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi mereka karena mereka dapat menanam apa saja yang mereka mau tanpa melihat segi geografis. Misalnya saja negara Kanada yang mana negara ini merupakan salah satu negara yang paling dekat dengan kutub utara.

Maka bisa dibayangkan seberapa dingin negara itu sangat musim dingin, saat musim dingin suhu udara bisa mencapai -25 derajat celcius. Dan Kanada adalah salah satu negara maju. Maka kita bisa bayangkan misalnya para peneliti di Kanada telah memodifikasi dan menemukan gen tanaman jati yang berasal dari gen plasma nutfah yang diambil dari negara lain (misalnya Indonesia) lalu ditanam di daerah bersalju, pasti kita akan berpikiran aneh, sekarang kita tidak hanya bisa melihat pohon cemara yang bersalju tapi kita juga bisa melihat pohon jati yang bersalju.

Jika dilihat dari sudut pandang lingkungan pasti hal ini tidak sesuai dengan bioetika. Bioetika merupakan kebutuhan mutlak dalam menghadapi berbagai konsekuensi yang muncul dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa globalisasi ini. Menurut saya tindakan ini sangat tidak sesuai dengan etika manusia.

Hewan dan tumbuhan juga merupakan makhluk ciptaan-Nya. Kita sebagai makhluk ciptaan tidak bisa sembarangan mengubah atau memodifikasi gen yang berasal dari plasma nutfah. Dan menurut saya ini merupakan perbuatan yang tidak etis dalam hal pemanfaatan teknologi yang berkembang pesat.

Jika dilihat dari segi kelestarian hayati, ini juga bersifat negatif. Karena dengan mengubah atau memodifikasi gen plasma nutfah (gen asli) maka kita juga mengurangi gen asli tersebut yang jika dilanjutkan secara terus menerus pasti gen plasma nutfah akan habis tergantikan dengan gen hasil modifikasi. Maka generasi-generasi penerus di masa depan tidak bisa melihat tumbuhan asli yang tidak dimodifikasi itu.

Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, ini bersifat positif bagi negara maju dan bersifat negatif pada negara berkembang. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pertama kita tinjau dari perspektif negara maju, seperti halnya yang kita tahu negara maju perekonomiannya bergantung pada teknologi, dan mayoritas pada bidang jasa dan industri.

Kenapa tidak bergantung pada alam? Karena negara maju tidak memilki lahan yang luas dan tidak memiliki SDA yang melimpah. Maka kita bisa petik bahwa negara maju dalam memenuhi kebutuhan SDA negara maju impor dari negara berkembang. Kita tinjau dari perspektif negara berkembang. Negara berkembang dalam hal ekonomi bertumpu pada bidang pertanian, kehutanan, dan peternakan.

Kenapa masih bergantung pada alam? Karena negara berkembang tidak memiliki teknologi secanggih negara maju dan negara berkembang memiliki SDA yang berlimpah dikarenakan lahannya yang luas dan iklim yang mendukung, misalnya Indonesia. Maka kita bisa petik perekonomian negara berkembang bergantung dari ekspor SDA ke negara maju.

Apabila negara maju mau mengambil plasma nutfah dan memodifikasinya sehingga mereka dapat mengembangkan sektor pertanian mereka, ini berarti sama dengan memutus usaha negara berkembang untuk meningkatkan perekonomian mereka. Menurut saya negara maju dengan ini sama sekali tidak memberi kesempatan negara berkembang untuk mengembangkan negaranya ke arah yang lebih baik.

Kita ambil contoh misalnya Kanada telah memodifikasi gen asli dari tanaman jati dan telah mengembangkan tanaman jati disana, berarti sekarang Kanada tidak perlu impor kayu jati lagi dari Indonesia, tentu ini mengakibatkan perekonomian Indonesia sebagai negara berkembang menurun.

Jika dilihat dari sudut pandang penghijauan, ini bersifat positif. Dengan cara ini kita bisa melakukan penghijauan dengan menanam pohon-pohon yang besar guna mengurangi pemanasan global. Kita bisa menanam tanaman itu tidak hanya di daerah tropis tapi bisa juga di daerah beriklim sub-tropis, sedang, atau dingin sekalipun.

Kesimpulan yang saya dapat setelah meninjau dari segala aspek, saya tidak setuju dengan tindakan bahwa negara-negara maju yang mana ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat disana mulai mengembangkan teknologi kultur jaringan ini untuk mengambil gen plasma nutfah (gen asli) dari negara lain agar dapat dikembangkan di negaranya sendiri.

Sumber : https://www.kompasiana.com/natasya49700/5b7fd6ffc112fe076b6c7c48/kultur-jaringan-bermanfaat-atau-tidak?page=all

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.