Fashion hingga Kuliner Beri Kontribusi Terbesar pada Ekonomi Kreatif

0 68

Jakarta –

Nama Dian Pelangi terus diperbincangkan di dunia fashion internasional. Hasil karyanya berhasil membuat para desainer dan pencinta fashion terkagum akan inovasi busana muslimnya. Padahal saat remaja, Dian mengaku merasa dipaksa orangtua untuk sekolah di jurusan tata busana SMK 1 Pekalongan, Jawa Tengah. Ia pun sering mendapat cibiran teman-teman sebayanya.

“Sempat nangis-nangis tiap pulang sekolah karena dicibir teman-teman sebaya. Dikiranya cuma akan jadi tukang jahit,” ujarnya.

Namun masuk ke dunia tata busana justru membawa Dian ke kancah internasional. Kreativitasnya dalam mendesain kain tradisionallah kuncinya. Mulai batik Pekalongan, songket Palembang, dan kain jumputan ia sulap menjadi busana yang fashionable.

Kerja kerasnya membawa hasil baik ketika ia berkesempatan memamerkan koleksinya pada Paris Fashion Week for Peace 2018 dan New York Fashion Week: First Stage Spring Summer 2018 pada tahun ini.

Bersama Barli Asmara, Catherine Njoo, Melia Wijaya, dan Vivi Zubedi, ia memamerkan karya di ajang yang menjadi bagian dari New York Fashion Week. Semua desainer tersebut dipilih karena telah berhasil melalui penilaian oleh International Management Group. Hal yang dinilai adalah sisi orisinalitas, kekuatan konsep, dan kemampuan produksi.

Tidak hanya Dian Pelangi yang unjuk gigi di dunia internasional, produsen sneakers lokal Exodos57 juga sempat mencuri perhatian masyarakat. Sebab, brand asal Bandung ini menampilkan sepatu berbahan kulit yang menggabungkan bahan kanvas dan tenun asal Yogyakarta.

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda di Istana Bogor tahun ini, Presiden Joko Widodo juga memuji brand ini. Exodos57 mengusung tema 3Laborate, yaitu versi kolaborasi 3 brand (Exodos57, UnionWell, dan Rawtype Riot). Kolaborasi ini membuktikan sepatu yang didesain modern tetap bisa membawa identitas Indonesia, yakni dengan kain tenun Yogyakarta.

Fashion, kuliner, dan crafts (kerajinan tangan) itu sudah besar, dan kami mau akselerasi. Ada juga lainnya yang menjadi prioritas untuk dikembangkan, yakni games, aplikasi, musik, dan film,”ujar Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf pada diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Kantor Staf Presiden, Selasa (17/10/2017).

Produk-produk berbahan dasar kulit (Foto: Kominfo)

Bekraf terus berupaya meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk menyadari betapa pentingnya upaya bersama mendorong sektor ekonomi kreatif lain.

“Di masa depan, ekonomi tidak semata-mata bergantung pada sumber daya alam mentah,” lanjutnya.

Data Bekraf mengungkapkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2014 adalah Rp 784,82 triliun atau meningkat 8,6% pada 2015 menjadi Rp 852 triliun.

“Dari total kontribusi tersebut, subsektor kuliner, kriya, dan fashion memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif,” katanya.

Subsektor kuliner tercatat berkontribusi sebesar 41,69%, fashion 18,15%, dan kriya 15,70%. Selain itu, industri film tumbuh 10,28%, musik 7,26%, seni/arsitektur 6,62%, dan game tumbuh 6,68%. Sementara itu, tiga negara tujuan ekspor komoditas ekonomi kreatif terbesar pada 2015 adalah Amerika Serikat 31,72%, Jepang 6,74%, dan Taiwan 4,99%.

Proses membatik (Foto: Kominfo)

Meskipun terus tumbuh, jangan cepat puas. Masih ada yang harus diperhatikan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Salah satunya ekosistem bisnis dan investasi serta infrastruktur penunjang kegiatan.

Pemerintah telah mengambil langkah untuk memberikan bantuan permodalan karena potensi ekonomi kreatif cukup besar. Sektor ini juga dinilai paling memberi kesempatan kerja kepada anak-anak muda. Data dari Bekraf mengungkapkan perempuan mendominasi ekonomi kreatif, yaitu 53,68%.Sisanya 46,52% adalah laki-laki.

Pelaku ekonomi kreatif juga telah mengakses permodalan dari bank. Pada 2016, permodalan yang diakses dari perbankan senilaiRp 7,668 triliun. Angka tersebut melampaui target yang hanya sebesar Rp 4,9 triliun. Sementara itu, pada 2017, tercatat pelaku ekonomi kreatif mengakses modal dari perbankan sebesar Rp 192, 9 miliar dari target Rp 280 miliar. Maka total capaiannya Rp 7,86 triliun.

Diplomasi Soto

Proses pembuatan kain tenun (Foto: Kominfo)

Ekonomi kreatif diharapkan berkembang menjadi soft power yang dapat diandalkan oleh Indonesia untuk meningkatkan posisi di pasar global. Salah satu langkahnya adalah melibatkan para calon duta besar (dubes) yang merupakan perwakilan Indonesia di negara lain.

Kini Bekraf tengah mengembangkan berbagai program yang memerlukan dukungan jejaring internasional kuat, seperti Diplomasi Soto, Kopi, dan Tenun. Diplomasi tersebut bisa berhasil apabila dubes gencar melakukan promosi.

Secara keseluruhan, Bekraf membidangi 16 subsektor ekonomi kreatif,antara lain fashion, film dan animasi, kuliner, kriya, seni rupa, seni pertunjukan, seni musik, arsitektur, desain komunikasi visual, desain produk, pengembang aplikasi dan games, televisi dan radio, serta fotografi.

Ke-16 subsektor tersebut diharapkan menjadi andalan baru penggerak perekonomian nasional, baik dari sisi kontribusi terhadap PDB, peningkatan ekspor, maupun penyerapan tenaga kerja. Jika sektor industri kreatif Indonesia betul-betul digarap secara baik, nama Indonesia juga bisa mendunia seperti yang terjadi pada Korea dengan tren K-Pop.

“Sebab, apa pun industri kreatif itu telah menjadi kekuatan kita. Jika industri kreatif digarap secara baik, anak-anak muda diberi ruang kreatif untuk berinovasi dan berkreativitas, bisa untuk dibawa ke luar,” ujar Presiden Joko Widodo usai menonton festival musik We The Fest di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (11/8/2017).

Sumber : https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-3731946/fashion-hingga-kuliner-beri-kontribusi-terbesar-pada-ekonomi-kreatif

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.