Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit

0 66

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

A. Prospek Menguntungkan Bisnis Kebun Kelapa Sawit

bisnis perkebunan kelapa sawit

Bisnis Perkebunan Kelapa Sawit. Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan yang memberikan kontribusi penting bagi pengembangan agrobisnis di Indonesia. Terlebih, saat ini Indonesia menjadi pemain terbesar kelapa sawit dengan menguasai pangsa pasar sekitar 45% dari total produksi CPO (crude palm oil) dunia. Dengan luas areal diperkirakan mencapai 7,82 juta hektare, produksi minyak mentah diharapkan dapat melebihi 22 juta ton dan lebih dari 16 juta ton akan diekspor ke mancanegara.
Dari total luas areal penanaman kelapa sawit tersebut, sebanyak 42,4% di antaranya merupakan perkebunan rakyat dengan sistem kemitraan. Sistem kemitraan kelapa sawit ini mulai menjamur di masyarakat karena terbukti menguntungkan. Pasalnya, terdapat jaminan penerimaan hasil panen pekebun oleh pabrik kelapa sawit (PKS). Terlebih, adanya pabrik kelapa sawit skala kecil dengan kapasitas 30 ton/jam setidaknya membutuhkan suplai kelapa sawit dari lahan 6.000 hektare. Kondisi tersebut tentu membuka peluang usaha berkebun kelapa sawit skala kecil dengan modal lahan seluas 2—5 ha.

B. Persiapan Lahan Kebun Kelapa Sawit

  1. Pilih lokasi tanam sesuai dengan persyaratan tumbuh kelapa sawit. Pasalnya, kelapa sawit merupakan tanaman tahunan yang dapat berproduksi hingga 25—30 tahun. Karena itu, jika lahan yang digunakan tidak sesuai, akan menyebabkan produktivitas kelapa sawit akan berkurang.
    Tabel 1. Kesesuaian lahan kelapa sawit
    Persyaratan Kelas Kesesuaian Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (o C) 25—28 25—25/
    28—32 20—22/
    32—35 <20/
    >35 Curah hujan (mm/tahun) 1700—2500 1450—1700/
    2500—3500 1250—1450/
    3500—4000 <1250/ >4000 Defisit air (mm/tahun) 0—150 150—200 250—400 >400 Hari terpanjang tidak hujan <10 <10 < 10 > 10 Jeluk (cm) >100 50—100 25—50 < 25 Lereng (%) <8 8—16 16—30 > 30 pH 5,0—6,5 4,2—5,0 < 4,2 Penyinaran (jam) > 6 > 6 < 6 < 6 Kelembapan (%) > 80 > 80 < 80 < 80

    Tabel 2. Kecocokan lokasi kebun berdasarkan sifat fisik tanah Sifat Tanah Baik Sedang Kurang Kemiringan lahan (derajat) Kurang dari 12 12—23 Lebih dari 23 Kedalaman tanah (cm) Lebih dari 75 37,5—75 Kurang dari 37,5 Ketinggian air tanah (cm) Lebih dari 75 37,5—75 Kurang dari 37,5 Tekstur Lempung Berpasir Pasir Struktur Kuat Sedang Lemah Konsistensi Gembur Teguh Sangat teguh
    Sumber: Sunarko (2009)
  2. Usahakan lahan milik pribadi, bukan lahan sewa. Selain itu, lokasi kebun sebaiknya berada dekat dengan pabrik pengolahan kelapa sawit. Pasalnya, hasil panen tandan buah segar (TBS) harus segera diolah agar minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang dihasilkan tetap baik (kadar asam lemak bebas rendah).
  3. Lakukan persiapan lahan kelapa sawit seperti pembersihan lahan (land clearing), pembuatan jalan, saluran drainase, dan penanaman legum cover crops (LCC).

B. Pastikan Bibit Kelapa Sawit Berkualitas

  1. Pastikan bibit yang ditanam berasal dari benih bersertifikat yang dapat diperoleh dari instansi resmi yang mendapatkan izin untuk menjual bibit. Biasanya, benih dilengkapi dokumen-dokumen resmi seperti surat DO, surat daftar persilangan, dan surat tanda serah terima.
  2. Hindari penggunaan bibit asalan yang berasal dari jatuhan buah (kongkowak) atau bibit palsu. Pasalnya, umur produksi kelapa sawit sangat panjang sehingga dikhawatirkan penggunaan bibit asalan justru dapat menurunkan produksi kelapa sawit.
  3. Hitung jumlah kebutuhan bibit per hektare. Sebagai patokannya, dalam satu hektare lahan, dengan jarak tanam 9 x 9 meter, diperlukan bibit sebanyak 143 bibit ditambah bibit sulam seba-nyak 5% dari total kebutuhan bibit.

Waspada Benih Kelapa Sawit Palsu!

Beberapa tahun terakhir, isu peredaran benih palsu sering kali terdengar di kalangan pebisnis kelapa sawit. Benih yang tidak jelas asal-usulnya ini diperjualbelikan karena permintaan yang terus meningkat, sementara ketersediaan benih kelapa sawit terbatas. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memproduksi benih palsu dan mengedarkannya. Padahal, benih palsu sangat merugikan karena pertumbuhannya lambat dan produktivitasnya pun jauh lebih rendah dibandingkan dengan bibit hasil persilangan yang bersertifikat. Karena itu, sebelum bertanam pastikan benih kelapa sawit Anda berasal dari sumber benih legal dari instansi maupun perusahaan yang telah memiliki legalitas dari pemerintah.
Berikut beberapa instansi dan perusahaan penghasil benih kelapa sawit bersertifikat.

  • Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)
  • PT Socfindo
  • PT PP London Sumatra Indonesia
  • PT Bina Sawit Makmur
  • PT Tunggal Yunus Estate
  • PT Dami Mas Sejahtera
  • PT Tania Selatan
  • PT Bakti Tani Nusantara

C. Penanaman Bibit Kelapa Sawit Sesuai Prosedur

  1. Sebelum penanaman, tentukan titik tanam sesuai dengan jarak tanam yang digunakan. Umumnya, jarak tanam berukuran 9 x 9 meter dengan jumlah populasi 143 pohon/hektare. Jarak tanam bisa lebih rapat, asalkan pada 5—10 tahun dijarangkan agar produktivitas tanaman tetap optimal.
  2. Buat lubang tanam dua minggu sebelum penanaman pada titik tanam yang telah ditandai sebelumnya. Caranya, gali tanah hingga berukuran 60 x 60 x 60 cm.
  3. Dua minggu kemudian, tanam bibit di lubang tanam. Caranya, sobek polibag, lalu tempatkan bibit tepat di bagian tengah lubang tanam. Posisi bibit harus tegak lurus dan tidak boleh miring.
  4. Tutup lubang tanam menggunakan sisa tanah penggalian, lalu padatkan tanah di sekitar bibit agar tertanam kokoh.
  5. Buatkan piringan di sekitar titik tanam dengan cara membersihkan gulma atau tanaman pengganggu hingga radius 50 cm dari titik tanam.

C. Lakukan Pemeliharaan Tanaman Kelapa Sawit

  1. Lakukan penyulaman untuk mengganti tanaman yang rusak atau mati setelah penanaman. Sebaiknya, penyulaman dilakukan setiap tahun hingga tanaman berumur tiga tahun.
  2. Kendalikan pertumbuhan ilalang, gulma, dan anak kayu yang dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Caranya, siangi gulma secara manual atau menggunakan herbisida glyfosfat dengan dosis 6—10 ml per hektare per rotasi dengan konsentrasi 0,5%. Penyiangan dilakukan setiap 4—6 bulan sekali hingga tanaman berumur tiga tahun.
  3. Lakukan pemupukan sesuai hasil analisis kandungan hara dan dosis anjuran.
  4. Lakukan kastrasi (pembuangan bunga muda yang muncul) pada tanaman yang berumur 12—20 bulan hingga enam bulan sebelum panen pertama (umur tiga tahun). Untuk tanaman yang berumur lebih dari 20 bulan, biasanya kastrasi menggunakan bantuan dodos kecil untuk memotong dan membuang bunga yang tumbuh di belakang pelepah.

D. Pemanenan Kelapa Sawit

  1. Siapkan peralatan panen, seperti egrek, dodos, dan kapak. Penggunaan masing-masing alat menyesuaikan pada tinggi tanaman.
  2. Tentukan waktu panen yang tepat, yaitu saat buah kelapa sawit berwarna merah atau oranye. Indikasi buah siap panen lainnya adalah adanya buah yang terlepas dari tangkai tandannya (brondolan) sebanyak 1—2 buah per kg TBS (satu buah sawit memiliki berat 5—7 kg).
  3. Panen tandan kelapa sawit dan kumpulkan hasil panen di pinggir jalan untuk memudahkan pengangkutan.
  4. Setelah panen, angkut TBS dan brondolan ke pabrik kelapa sawit sesegera mungkin. Pasalnya, kandungan asam lemak bebas (ALB) pada buah akan meningkat seiring dengan waktu. Di lain sisi, kualitas minyak sawit yang dihasilkan pabrik pengolahan kelapa sawit harus memiliki kadar ALB yang tetap rendah.
  5. Lakukan rotasi panen setiap 7—15 hari, tergantung pada luasan kebun dan jumlah tandan siap panen.

E. Kendala dan Solusi Bisnis Kelapa Sawit

Kendala Solusi
Pengendalian hama yang sulit Hama yang sering menyerang adalah serangga, tikus, dan babi hutan. Gunakan insektisida dan organisme predator untuk mengendalikannya. Misalnya, memelihara burung hantu di sekitar kebun untuk memangsa hama tikus.

F. Analisis Biaya Bisnis Kelapa Sawit

a. Asumsi

  1. Lahan yang digunakan merupakan lahan pribadi seluas satu hektare.
  2. Reinvestasi dilakukan setiap lima tahun.
  3. Pemupukan dilakukan sesuai jenis dan dosis berikut. Komponen Jumlah Pupuk Tahun Ke- (Kg) 1 2 3 4 5–22 Urea – 131 139 54 679 SP-36 – 178 193 72 715 KCl – 103 83 143 1635 Kieserite 8,25 41 49 72 715 Bo – – – 3,6 30 Pupuk majemuk 15-15-6-4 7,5 – – – – Pupuk majemuk 12-12-17-2 34,5 – – – –
  4. Masa produksi kelapa sawit selama 25 tahun dan mulai menghasilkan pada tahun ke-3.
  5. Jarak tanam yang digunakan berukuran 9 x 9 m, sehingga jumlah bibit yang ditanam sebanyak 143 bibit.

b. Rincian Biaya

Biaya investasi bertanam kelapa sawit

Komponen Harga
(Rp)
Jumlah Satuan Investasi tahun ke-1
Hand sprayer 350.000 2 Buah 700.000
Cangkul 50.000 10 Buah 500.000
Garpu 50.000 8 Buah 400.000
Pompa air dan selang 1.000.000 1 Buah 1.000.000
Wheel barrow 200.000 3 Buah 600.000
Ember 25.000 10 Buah 250.000
Dodos 40.000 4 Buah 160.000
Egrek15.0004Buah60.000
Sabit20.0005Buah100.000
Ajir500150Buah75.000
Tali rafia15.00015Gulung225.000
Biaya investasi tahun pertama4.070.000

Biaya reinvestasi

Komponen Tahun ke-5 Tahun ke-10 Tahun ke-15 Tahun ke-20
Hand sprayer 700.000 700.000 700.000 700.000
Cangkul 500.000 500.000 500.000 500.000
Garpu 400.000 400.000 400.000 400.000
Pompa air dan selang 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000
Wheel barrow 600.000 600.000 600.000 600.000
Ember 250.000 250.000 250.000 250.000
Dodos 160.000 160.000 160.000 160.000
Egrek 60.000 60.000 60.000 60.000
Sabit 100.000 100.000 100.000 100.000
Biaya reinvestasi 3.770.000 3.770.000 3.770.000 3.770.000
Total biaya investasi selama 20 tahun 19.150.000

Total biaya operasional = Total investasi + Total biaya variabel
                                        = Rp19.150.000 + Rp267.902.750
                                        = Rp287.052.750

c. Pendapatan dan Keuntungan Bisnis Kelapa Sawit

1. Pendapatan

Tahun Jumlah Harga Pendapatan Pengeluaran Keuntungan
ke- panen (kg) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 0 1.400 0 27.748.750 -27.748.750
2 0 1.400 0 11.538.600 -11.538.600
3 8.000 1.400 11.200.000 10.771.400 428.600
4 16.000 1.400 22.400.000 10.087.000 12.313.000
5 21.000 1.400 29.400.000 13.857.000 15.543.000
6 24.500 1.400 34.300.000 10.087.000 24.213.000
7 27.000 1.400 37.800.000 10.087.000 27.713.000
8 28.000 1.400 39.200.000 10.087.000 29.113.000
9 30.000 1.400 42.000.000 10.087.000 31.913.000
10 30.000 1.400 42.000.000 13.857.000 28.143.000
11 30.000 1.400 42.000.000 10.087.000 31.913.000
12 30.000 1.400 42.000.000 10.087.000 31.913.000
13 29.500 1.400 41.300.000 10.087.000 31.213.000
14 28.500 1.400 39.900.000 10.087.000 29.813.000
15 27.500 1.400 38.500.000 13.857.000 24.643.000
16 26.500 1.400 37.100.000 10.087.000 27.013.000
17 26.000 1.400 36.400.000 10.087.000 26.313.000
18 24.500 1.400 34.300.000 10.087.000 24.213.000
19 23.500 1.400 32.900.000 10.087.000 22.813.000
20 22.500 1.400 31.500.000 13.857.000 17.643.000
21 21.500 1.400 30.100.000 10.087.000 20.013.000
22 20.500 1.400 28.700.000 10.087.000 18.613.000
23 19.500 1.400 27.300.000 10.087.000 17.213.000
24 18.500 1.400 25.900.000 10.087.000 15.813.000
25 17.500 1.400 24.500.000 10.087.000 14.413.000
770.700.000 287.052.750 483.647.250

2. Keuntungan

Keuntungan = Pendapatan – total biaya
                     = Rp 770.700.000 – Rp287.052.750
                     = Rp483.647.250

d. Kelayakan Usaha

1. Rasio R/C

Rasio R/C    = Pendapatan : Total biaya operasional
                     = Rp770.700.000 : Rp287.052.750
                     = 2,68
R/C lebih dari satu artinya usaha layak dijalankan. R/C 2,68 artinya setiap penambahan modal sebesar satu rupiah akan memberikan pendapatan sebesar Rp2,68.

2. Return of Investment (ROI)

ROI merupakan perbandingan antara keuntungan dan biaya operasional untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal.
ROI   = (Keuntungan : biaya operasional) x 100%
          = (Rp483.647.250 : Rp287.052.750) x 100%
          = 169%
Artinya, setiap pengeluaran sebesar Rp1 akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp169.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit , https://panduanbertanam.blogspot.com/2016/04/bisnis-perkebunan-kelapa-sawit.html

Incoming search terms:

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.