Bagaimana belajar lebih bahagia dan memahami hidup dari pohon?

0 71

Pohon bisa menyelamatkan hidup, membuat Anda lebih bahagia dan kuat secara mental. Lindsay Baker menelusuri bangkitnya karya sastra dari kalangan ‘pemeluk pohon’ alias tree hugger.

”Pohon adalah tempat menumpang hidup,” kata penyair dan filsuf asal Jerman, Herman Hesse.

”Dari pohon, kita bisa melatih kepekaan dalam mendengar… pohon itu rumah. Pohon itu sumber kebahagiaan.”

Di bukunya yang berjudul Pohon: Refleksi dan Puisi (Trees: Reflections and Poems), Hesse berfilosofi tentang pohon dan mengatakan pohon adalah kunci untuk memahami kebenaran, keindahan, rumah, peran, dan juga kebahagiaan.

Sebutan ‘pemeluk pohon’ biasa dipakai untuk meledek kaum hippies yang menjadi aktivis lingkungan. Ini berbeda dengan gerakan baru yang dibawa oleh Hesse.

pohon
Image captionIlustrator Clare Curtis termasuk salah satu seniman kontemporer yang karya-karyanya terinspirasi dari pohon dan hutan (Dokumentasi Clare Curtis).

Saat ini populer kembali istilah waktu untuk pohon atau tree time. Di medsos pun bermunculan tagar bertema pohon, misalnya #treeofinstagram dan #lovetrees yang banyak digunakan warganet.

Dan, metode Shinrin-yoku menjadi tren. Ini adalah terapi berjalan kaki tanpa tujuan di hutan. Banyak yang kembali mempraktekkannya sebagai terapi pencegahan penyakit dan penyembuhan diri ala Jepang.

Di dunia sastra, karya-karya bertema pohon juga naik tajam. Beberapa di antara buku dan pembahasan baru yang bermunculan yaitu Kehidupan Tersembunyi dari Pohon (The Hidden Life of Trees) karya Peter Wohlleben, Labirin Aneh (Strange Labyrinth) karya Will Ashon, Pohon yang Panjang Umur (The Long, Long Life of Trees) karya Fiona Stafford, dan sebuah karya alegoris berjudul Manusia yang Menanam Pohon (The Man Who Planted Trees) karya Jean Giono.

Membicarakan pohon, apa ini obsesi baru? Mengapa penulis dan seniman tertarik membahas panjang lebar soal pohon? Apa yang bisa kita pelajari dari pohon? Benarkah pohon membuat kita lebih bahagia dan tenang?

Tentu saja pohon bukan subjek baru di jagat sastra. Hesse cuma satu dari sekian banyak penulis, penyair, seniman, dan filsuf yang terinspirasi dengan pohon serta hutan.

Sejak abad ke-19 misalnya, penyair Inggris John Clare sudah mengangkatnya dalam puisi The Fallen Elm. Lewat puisi itu, John berkisah tentang untung dan rugi industrialisasi serta setiap jengkal hutan yang lenyap. Sedangkan puisi berjudul Saat itu Pagi Bulan April (It Was an April Morning), William Wordsworth berkisah tentang keindahan yang dijanjikan pepohonan di saat Musim Semi.

pohon

Dari sekian banyak buku bertema pohon yang beredar saat ini, ada satu yang berjudul Arboreal: Koleksi Tulisan Baru tentang Hutan (Arboreal: A Collection of New Woodland Writing). Buku ini membahas tentang sastra, sejarah, mitologi, serta cerita rakyat yang pernah ada tentang pohon dan hutan. Dalam buku ini, ada juga esai-esai milik arsitek, seniman, akademisi, dan penulis yang menceritakan kedekatan mereka dengan pohon dan kawasan hutan. Kontributornya antara lain penyair Zaffar Kunnial, penulis Tobias Jones, Hellen Dunmore, Ali Smith, Germaine Greer, Richard Mabey, dan masih banyak lagi.

Hutan bagi pohon

Kontributor Arboreal, Fiona Staffors, yang juga menulis The Long, Long Life of Trees, melihat bahwa perkembangan sastra tentang pohon ini adalah refleksi dari meningkatnya tren penulis baru di bidang alam dan lingkungan.

Sebagian besar lahir dari tingginya kepedulian terhadap kondisi lingkungan saat ini. “Tapi tulisan-tulisan yang memakai pendekatan pohon ini juga bagian dari tradisi sastra yang sudah lama ada,” ungkapnya kepada BBC Culture.

”Di satu sisi, karya sastra semacam ini banyak yang mengangkat lagi tema-tema pedesaan yang tenang dan tentram serta hilangnya kehidupan pedesaan. Di sisi lain, bermunculan juga bentuk-bentuk sastra baru yang kontemporer dan kekinian, relevan dengan kehidupan saat ini.”

lukisan pohon
Image captionLukisan bertema hutan karya pelukis David Hockney di Pompidou Centre, Paris, pada 26 September 2017.

Sejak kecil, Stafford menyukai pohon. ”Pohon seakan menciptakan dunia tersendiri untuk dirinya. Tidak menaungi kehidupan hewan, pohon juga menaungi berbagai imajinasi yang muncul di kepala, sehingga membuat saya merasa segala hal yang dikejar di dunia kerja jadi serba mungkin.”

Selain itu, menurut dia pohon ”menghadirkan ketentraman”. Pohon juga menjadi objek akrab dan dianggap sarat dengan kehidupan. Dalam tenang pohon merawat semua yang hidup menumpang di bawah kanopinya. Stafford kemudian mengutip dongeng klasik mulai dari Robin Hood sampai The Wind in the Willows. ”Dan buku peraih penghargaan karya Frances Hardinge, berjudul Pohon yang Terbaring (The Lie Tree) ke depan sudah jadi sastra klasik.”

Pohon menghubungkan kita dengan sesama dan dengan masa lalu atau masa depan.Fiona Stafford

Ketertarikan lain dari Stafford adalah tentang bagaimana seniman visual terinspirasi dan menerjemahkan topik tentang pohon dan hutan. Seniman favoritnya? “David Hockney,” kata dia.

“Ia melukis pohon dan hutan dengan antusias dan serius sekali, sehingga sangat masuk di akal jika disebutkan kalau pohon bisa menularkan energi dan semangat, serta membawa warna-warna tak terduga.”

Adapun, John Chrome dan Gustave Courbert lewat karyanya menjelajahi topik tentang pohon ek yang menjadi simbol mistis dan kekuatan serta kehormatan.

pohon
Image captionPohon sequoia raksasa yang tumbuh di Taman Nasional Sequoia di Amerika Serikat.

Stafford juga menjelajah sampai ke bagian hutan yang gelap yang diyakini sebagai “akar dari berbagai cerita rakyat Eropa”. Mulai dari cerita tentang Grimm Bersaudara sampai kisah Baba Yaga dari Rusia.

”Citra yang menempel pada hutan lebat yaitu seram dan berbahaya. Ini yang kemudian hadir di cerita-cerita seperti Little Red Riding Hood atau Babes in the Wood. Tapi, ada juga karya sastra yang memakai hutan lebat untuk menggambarkan hal yang dewasa serta berkelas, misalnya dalam kisah The Dark Wood. Sylvia Plath dan Robert Graves juga tertarik dengan gambaran akan hutan yang gelap.”

Dan ada juga seniman lain, seperti Anselm Kiefer, yang menyukai sisi gelap dari hutan sebab dianggap sangat intens dan sesuai dengan karya mereka.

Di atas sudah disebutkan bagaimana sudah banyak seniman menjadikan pohon sebagai sumber referensi. Tapi, bukan berarti yang baru muncul akhir-akhir ini tidak berarti sebab tulisan mereka terkait pohon juga membawa dorongan positif.

Apakah menurut Stafford pohon bisa membuat kita lebih bahagia? ”Pohon membangkitkan segala rasa,” kata dia. ”Baunya segar, ada suara daun gemerisik dan nyanyian burung, ranting pohon juga bertekstur – segalanya menarik, khususnya di kehidupan perkotaan yang modern… Pohon membuat kita terhubung dengan sesama, baik yang hidup di masa sekarang maupun mereka yang hidup di masa lampau dan di masa mendatang. Saat Anda menanam bibit pohon yang mungkin butuh 200 tahun tumbuh menjadi pohon dewasa, Anda bisa merasakan indahnya janji masa depan dan hadiah yang Anda berikan bagi generasi yang belum lahir. Perasaan seperti ini saya kira menyenangkan hati.”

lukisan
Image captionKarya seniman Jerman Anselm Kiefer yang dipamerkan Sydney, Australia

The Woodland Trust di Inggris adalah salah satu lembaga yang mendukung kegiatan tree time atau semacam cara meresapi tubuh, pikiran dan jiwa. Dengan lebih terlibat di alam, diyakini jiwa menjadi lebih tenang dan berada dekat dengan alam juga membantu kita mengatasi stres.

The Trust bekerja sama dengan Common Ground dalam acara musiman yang diselenggarakan secara berkala, namanya Leaf! Ini ruang berbagi buat seni, puisi, dan karya sastra tentang pohon. Gerakan ini juga mengembangkan versi modern dari The Charter of the Forest, yang mulanya dibuat di Inggris pada 1217. Bahasannya antara lain hak dan tanggung jawab warga terhadap hutan negara, isu menggembalakan babi, sampai hal-hal terkait memicu kebakaran. The Charter for Trees, Woods and People dinilai sesuai dengan fenomena abad ke-21 dan akan dipublikasikan pada November tahun ini.

‘Tree time’

”’Tree time’ bisa membuat kita mengatasi stres yang sedang membelit,” Tobias Jonse seorang penulis yang juga berkontribusi di Arboreal, sepakat. Dia juga berbicara dalam panel di Hay Festival membahas topik ini.

”Yang disebut sindrom defisit alam itu nyata sekali dan saya yakin hutan adalah tempat terbaik untuk menyembuhkan hal tersebut,” kata dia. Jones mendirikan sebuah komunitas di Inggris, bernama the Windsor Hill Wood, ”sebuah tempat pengungsian bagi mereka yang sedang bergelut dengan krisis hidup”. Ini juga yang menjadi bahasan dalam buku terbarunya A Place of Refuge.

Di hutan, Anda menghadapi ketakutan Anda sendiri.Tobias Jones

Saat Jones meriset untuk buku sebelumnya yang berjudul Utopian Dreams, dia menemukan bahwa kesehatan mental manusia bisa bertambah baik saat hidup dikelilingi hutan.

Menurut penulisnya, pohon adalah obat yang mujarab dan bisa mengobati kemarahan dan kecemasan. Gagasan ini kemudian yang menginspirasi orang melakukan aktivitas ‘mandi hutan’ atau forest bathing, juga dengan alasan ”Situasi di hutan bisa sangat membuat Anda merasakan bagaimana rasanya takut, seram, dan menghadapi situasi yang sulit ditebak. Di hutan Anda akan berhadapan dengan ketakutan Anda sendiri.”

Selain itu, kata dia, segalanya bisa terpenuhi di hutan. Untuk menghangatkan rumah, mereka bisa memotong pohon, mereka juga bisa membuat perabot dan berbagai alat kebutuhan hidup dari kayu yang berasal dari hutan. Itu sebabnya hutan memiliki efek terapi menenangkan dan menciptakan suasana damai.

Lalu dia menyebut juga soal ‘coppicing’, praktek memotong pohon hingga ke pangkalnya supaya pohon itu nantinya tumbuh kembali. Ini dipakai sebagai analogi. ”Saat pohon diletakkan dan dipotong, ini mewakili regenerasi dan membuat kita berpikir apa yang baik bagi kesehatan mental seseorang. Ini juga mengingatkan kita pada keberlanjutan dan pentingnya membangun kembali kehidupan.”

Di Arboreal, penyair Zaffar Kunial menguraikan bagaimana pohon laburnum di pekarangan belakang rumah masa kecilnya di Birmingham begitu berarti dan membuat dia merasa punya ‘akar’ budaya. ”Di keluarga, pohon itu sering disebut sebagai ‘pohon saya’,” kata dia. “Pohon itu juga mewakili masa sekarang dan masa depan, terlebih saya punya orangtua yang berasal dari dua benua berbeda.”

Puisi Kunial, judulnya Fielder, menjelaskan bagaimana saat dia mencari bola kriket yang hilang, secara tak terduga dia menemukan hutan baru, ”teduh sekali walau baru sekuku besarnya”, dan di sana waktu seakan-akan berhenti. Ia juga tertarik sekali dengan “kualitas prismatik dari cahaya di dalam hutan dan bagaimana cahaya bisa berbentuk seperti deretan belati, dengan pepohonan memotong jalan cahaya. Saat Anda melihat bluebell tumbuh liar di hutan mereka kelihatan kabur, seperti refleksi dari langit. Ini menunjukkan keseimbangan, melempar kesadaran saya akan waktu.” Penyair Libanon-Amerika Kahlil Gibran sama terinspirasinya dengan subjek ini: ”Pohon adalah syair yang ditulis Bumi kepada langit,” begitu dia menulis.

Gagasan memeluk pohon dimulai di India pada 1730-an oleh sebuah suku yang sangat memuja alamnya.

Sebutan ‘tree hugger’ buat sebagian orang dinilai sebagai penghinaan. Julukan ini seringkali ditempelkan kepada kaum hippies yang dianggap sulit membedakan mimpi dan kenyataan.

Adapun sesungguhnya, istilah ini berasal dari sebuah tempat di India pada tahun 1730-an. Ketika itu, maharaja ingin membangun istana baru di sebuah desa dekat Kota Jodhpur. Desa tersebut tempat bermukim orang Bishnoi, sekte pemuja alam. Maharaja lalu meminta beberapa pohon tua yang ada di desa ditebang untuk memberi ruang bagi istana yang baru dan Amita Devri bersama perempuan Bishnoi lainnya melancarkan protes damai dengan cara mengelilingi pepohonan tadi dan melingkarkan kaki dan tangan mereka di batang pohon.

Protes itu berakhir tragis. Kelompok ini dipukul mundur oleh para penebang dan disebutkan ada 353 pemrotes tewas terkena kampak penebang, hingga akhirnya maharaja mengintervensi.

Peristiwa ini sesungguhnya bercerita tentang hal yang lebih dalam dari pemeluk pohon itu sendiri.

Ada hal yang lebih dalam dari sekadar pemeluk pohon dalam pandangan ini dan sama halnya dengan pohon itu sendiri. Atau sebagai metafor tree hugger Herman Hesse menulis: ”Di rantingnya yang paling tinggi, dunia gemerisik, akarnya bersandar pada keabadian, tetapi mereka tidak kehilangan jati dirinya, mereka berjuang dengan segala daya kehidupan untuk satu hal: membuat diri mereka penuh berdasarkan hukumnya sendiri, untuk membangun bentuknya sendiri, mewakili dirinya sendiri… Tidak ada teladan yang melebihi pohon yang cantik dan kuat.”

Sumber :
https://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-41330556

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.